Ads

Barokah Kah??


Tanyakan pada diri sobat sendiri, apa ukuran seorang santri dikatakan berhasil meraih barokah dan manfaat dalam ilmu yang didapatnya dari pesantren? Kalaupun tidak persis, mungkin saja tidak akan jauh dari jawaban abc yang tersedia berikut ini. Karena ini sudah melalui survey oleh tukul bukan arwana. Apa saja itu. Mumpung masih anget-angetnya habis ujian, maka tidak apalah kita rasakan memilih jawaban ABC.

A. Santri yang ilmunya barokah dan manfaat itu yang kalau pulang nanti bisa punya santri banyak. Semakin banyak santri yang mondok di pesantrennya, berarti semakin besar pula barokah yang telah ia capai. Alasannya, ya semakin banyak orang yang mengambil air di suatu sumur, berarti kan isi sumur itu emang banyak (Jos), berarti juga semakin besar barokah manfaatnya (Sip). Kasarane, pulang mondok jadi Kyai atau Bu Nyai. Atau minimal dinikah kalian Gus atau Kyai.. hehehe...
B. Ada juga yang menjawab bahwa santri yang ilmunya barokah dan manfaat itu adalah yang bisa mengembangkan ilmunya dan menularkan pada keluarga dan masyarakat sekitarnya. Jawaban ini sebenarnya juga hanya alih bahasa dari jawaban A. Jadi kalau dalam pilihan, bisa ditambah huruf pilihan D, dengan ungkapan “A dan B benar/salah”.
C. Santri yang barokah manfaat ilmunya itu adalah yang sepulang dari pesantrennya hidup adem ayem, rejeki lancar, bojo ayu tanpo kumisan...eh make up-an. Moro tuo sugeh tur lomanan. Kalau mbak-mbak, ya bojo ganteng gagah putih brewokan. Moro tuo sugeh plus awehan.
Saya teringat kisah yang dulu pernah diceritakan ustadz saya. Ada seorang sowan ke seorang Kyai, gurunya, mengeluhkan bahwa santri di pesantrennya kian menyusut jumlahnya. Pertama sang Kyai menasehatinya agar telaten dan sabar. Ternyata kian hari santri ingon-ingonane si Kyai tadi makin habis. Sehingga sowanlah dia kepada sang Guru. Meminta doa, wirid dan sejenisnya agar santrinya bisa seperti semula. Kan terancam jadi mantan kyai nih... Ternyata Sang guru malah murka kepadanya. Dengan ketus sang Kyai berkata, “Apakah dengan semakin banyak santrimu berarti sampean semakin dekat dengan Gusti Allah??” Si Kyai akhirnya undur dengan tertunduk. Menyadari nafsu tersembunyi di sudut jiwanya.
Kembali kepada pilihan jawaban tadi, mungkin sampean, karena banyak yang sudah pandai bicara, akan menjawab berbelit. Tapi saya rasa tak akan jauh dari inti di pilgan yang ada. Pokok’e beda rupa tapi sama rasa.
Tetapi tolong dijawab juga, kalau anda memilih jawaban A, apakah berarti santri yang pulang-pulang tak jadi Kyai, Ustadz, guru TPQ, itu tidak/kurang barokah ilmunya? Kalau iya, saya jadi ingat bahwa orang sekolah sampai menyandang gelar berenteng-renteng di luaran sana itu, punya ukuran kesuksesan yaitu kalau lulus sekolah lalu punya kerjaan, perusahaan atau jadi pejabat. Lalu apa bedanya lulusan pesantren yang punya ukuran kesuksesan dengan harus jadi Kyai/Bu Nyai, dengan lulusan luaran sana? Intinya kan punya jabatan. Punya Jah.... iyo pora? Ngaku wae... pengen dadi Kyai to? Heleh-heleh...
Terus kalau ukuran sukses barokah manfaat itu adalah adem ayem, rejeki lancar, bojo ayu/ganteng, wah... bukankah itu ukuran dunia juga? Lagi-lagi apa bedanya pondok dengan sekolahan tadi? Kadang kita lihat alumni pesantren yang hidupnya melarat, lantas kita bilang, itu gak dapat barokahnya ilmu dari mondok. Aduh kejamnya...
Lantas apa sebenarnya jawaban untuk pertanyaan di atas?? Saya juga lagi bingung, Sobat. Ya sudah lah... Karena sudah bingung sebaiknya kita sudahi saja. Intinya, saat kita merasa sudah berhasil saat itulah sebenarnya kita gagal. Saat kita sudah merasa beroleh barokah lantas menganggap orang lain yang tak seperti kita tidak beroleh barokah, saat itulah kita sebenarnya kehilangan barokah. Karena barokah adalah bertambahnya kebaikan, maka apapun bentuknya asalkan merupakan kebaikan, ya itulah barokah. Bingung? Sama.... wassalam..
#Nasrudinmaimun@yahoo.com#
Barokah Kah?? Barokah Kah?? Reviewed by Kang Nasrudin on Juni 09, 2014 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.