Kang Nasrudin
Kang Nasrudin Alumni PP. Miftahul Falah, Sumber Sari. Lanjut ke PP Darussalam Blokagung, Banyuwangi. Pernah mengikuti program Pesantren Pasca Tahfidz Bayt Alquran, Tangerang, Pusat Studi Alquran, salah satu santri angkatan ke 8.

Cerpen Karya Santri: Ibuku Sayang Ibuku Tega

Tidak ada komentar

Daftar Isi [Tampil]
nasrudin93.blogspot.com

Aku sedih setiap kali ibu bercerita tentang kisah hidupnya yang pahit. Ia sering kali berkata bahwa seharusnya aku tak ada di sisinya. Menyatu dalam hidupnya, menjadi bagian dirinya. Hampir setiap hari aku merasakan elusan halus tangannya. Membelai aku dari kepala hingga kaki. Dia selalu lama terdiam dalam sendu. Sesekali mendesah berat. Aku tahu dan paham bahwa begitu berat beban yang ditanggungnya. Ketika ia mengelusku dengan sejuta kesedihan maka aku hanya bisa membalasnya dengan senyuman dan menggeliat  manja. Ingin aku turut menangis tetapi aku tak punya air mata.
Tidak..., tidak selalu dengan kasih sayang ia mengelusku. Sesekali, bahkan sering kali ia justru meremas, memukul-mukul dengan benci. Ia begitu ingin aku mati saat itu. Kadang ia akan menggoncang-goncang tempatku. Aku hanya bisa mengeluh tanpa pernah bisa protes. Aku ingin teriak, ‘Jangan Bu!!!’, tetapi mulutku belum bisa bicara. Yang bisa aku lalukan hanyalah membalas usahanya membunuhku dengan geliatan yang terkadang manjur untuk membuat dia menghentikan perbuatannya. Biasanya setelah itu dia akan menangis pilu. Kembali menceritakan bahwa aku tak seharusnya ada.
Di lain waktu ibu mengenang dan menceritakan tentang ayah. Seorang yang belum sekalipun aku lihat wajahnya, dan tak terbayangkan seperti apa makhkuk yang bergelar ayah. Kata ibu, aku bisa ada karena ada ayah. Oh, seperti Tuhankah ia? Tidak. Masih kata ibu, dialah yang menanam benih di rahim ibu hingga aku terwujud dan muncul di sana.
Di saat ibu tenang ia akan bercerita kepadaku sambil membelaiku dengan sedih. Dia selalu bercerita tentang ayah. Dari ceritanya aku bisa membayangkan bahwa ayahku adalah seorang yang berwajah tampan, gagah, lembut, romantis. Sesekali ibu tersenyum mengenang ayah.
Ibuku masih muda, sangat muda. Ia harus berhenti sekolah karena aku. Ya, masih kelas dua SMA. Kehadiranku saat ini menjadi masalah besar buatnya. Kepala sekolah memarahinya dan tanpa perasaan langsung menanda tangani surat pemberhentian untuk ibu. Aku tahu semua yang terjadi karena kemanapun ibu pergi dia selalu membawaku turut serta. Bagaimana ia harus menganggung cercaan dari rekan sekolah. Menerima tamparan dari kakek dan nenekku.
Ah, Ibu... semua menolak kehadiranku bahkan termasuk dirimu. Sekali waktu ibu memberiku racun-racun agar aku mati saja. Berulangkali hingga rasanya aku pun putus asa. Tetapi rupanya Tuhan masih belum ingin mencabut nyawaku saat ini. Aku bahagia karena akan tahu dunia, tetapi aku selalu menanggung siksaan dari ibuku, meskipun setiap dia menyiksaku, dia juga yang akan menderita kesakitan.
Terkadang ibu baik, kadang begitu jahat. Kadang mengelus sayang mengharap kehidupanku, tetapi lebih sering meremas dan memukulku seraya mendengus, kau harusnya tak ada disni…
Seandainya aku bisa bicara maka aku akan menjawab kata-kata ibu. Bukankah ibu sendiri yang cerita kalau semuanya berawal dari rasa yang ibu katakan sebagai cinta? Dengan orang yang ibu katakan sebagai ayahku. Yang berwajah tampan dan mempesona. Gagah sekaligus romantis. Meskipun ibu hanya mengenalnya lewat apa yang ibu sebut sebagai Facebook, tetapi ibu begitu yakin dia adalah belahan hati ibu. Dari pertemuan, perbincangan, hingga perjanjian. Lalu bepergian berdua ke tempat-tempat yang indah. Lalu kata ibu juga bahwa sejak malam itu ibu telah melakukan yang tidak seharusnya terjadi. Tetapi dengan segala keyakinan, ibu akhirnya menikmati permainan demi permainan. Hingga akhirnya hadirlah aku yang membuat ibu bingung. Lebih bingung lagi ketika ternyata ayah tidak mau menerima kehadiranku. Dia yang semula berjanji akan menemani ibu selamanya, ternyata hilang tak jelas rimbanya.
Malam ini aku akan merasakan ruang lain sejak aku berada di sisi ibu. Ruang yang lebih luas dan tentu indah. Aku juga akan bisa tahu dengan lebih saksama wajah ibu yang mengandungku. Karena selama ini aku hanya bisa merasakan lembut tangannya atau kasar pukulannya dari tempat aku berlindung.
Detik demi detik berdetak, waktu berjalan begitu lambat. Aku mulai merasakan dorongan-dorongan dan sentakan yang memaksaku keluar dari persembuyian. Perlahan namun pasti aku menuju pintu utama untuk melihat dunia. Aku memang belum bisa melihat dan mendengar dengan sempurna. Tapi aku bisa rasakan bahwa aku sudah di tempat yang bernama dunia. aku sekarang tahu rasanya bernapas. Sebentar lagi aku akan bisa merasakan melihat.
Aku berteriak bahagia. Dunia… aku datang!!!. Samar-samar aku dengar suara dengus nafas dan tangis ibuku. Aku belum lagi bisa tahu bagaimana rupa ibu yang melahirkanku ketika sesuatu kurasakan membungkusku lagi. Sesaat kemudian aku merasa telah berada dalam ruangan lain. Setelah sesaat menghirup udara dunia, aku rasakan bahwa tubuhku kembali masuk ruangan gelap, dan udara yang kuhirup semakin hilang. Tak lama kemudian aku merasa terlempar membentur sesuatu benda keras. Gelap lagi. Pengap lagi. Napasku hilang. Aku hanya bisa pasrah...
****
Pagi itu, di sudut pembuangam sampah kota, seorang pemulung terlonjak kaget ketika menemukan bahwa kardus yang akan diambilnya berisi kantong plastik belepotan darah. Dengan jantung berdegup kencang ia membuka kantong plastik besar yang terikat kuat itu. Dan matanya seakan terloncat keluar ketika dari dalamnya tampak mayat bayi laki-laki mungil telah meringkuk kaku...


Kang Nasrudin
Kang Nasrudin Alumni PP. Miftahul Falah, Sumber Sari. Lanjut ke PP Darussalam Blokagung, Banyuwangi. Pernah mengikuti program Pesantren Pasca Tahfidz Bayt Alquran, Tangerang, Pusat Studi Alquran, salah satu santri angkatan ke 8.

Komentar