Ads

Jadug Lintang



“Kang Mahmud itu memang hebat. Sakti,” ujar Lek Pram. Malam ini kami sedang jagongan di gardu melaksanakan ronda. “Sejak ia mengalahkan gerombolan garong yang datang ke kampung kita bulan kemarin, kampung ini langsung aman terkendali. Mereka nggak berani lagi menampakkan batang hidungnya ke kampung ini,” lanjutnya sembari meletakkan gelas kopi yang tadi diseruputnya.
“Betul Lek. Kita mesti berterima kasih banyak akan kehadirannya di kampung ini. Sejak ia pulang dari pondok, anak-anak kita juga teratur pengajiannya,” sahut Kang Marjo.

Kang Mahmud memang menjadi buah buah bibir baru di kampungku. Semua itu berawal dari perampokan yang terjadi pada suatu malam di kampung Rejosari ini. Ketika orang-orang hanya berani mengintip para garong yang menyatroni rumah Wak Haji Sholeh orang terkaya di kampung ini tiba-tiba saja Kang Mahmud muncul dari ujung jalan lantas menghardik garong yang jumlahnya sekitar lima belasan orang. Mereka bersenjata lengkap sedang Kang Mahmud hanya berbekal sarung yang ia lipat memanjang.
Ketika para penjahat itu mengarahkan moncong senapan ke arahnya, Kang Mahmud hanya melecutkan sarungnya ke depan sembari berteriak keras. Ya, teriakan itu begitu kerasnya terdengar di telinga para penjahat dan orang yang menonton dari balik dinding papan maupun gedek bambu. Aneh... begitu digertak dengan keras, para penjahat itu seakan lumpuh semua persendiannya. Mereka luruh ke tanah. Jangankan lari, untuk menarik pelatuk senjata saja mereka tak mampu. Dengan penuh kemenangan Kang Mahmud mendatangi dan menyeret para penjahat itu satu persatu dan dikumpulkan ketengah halaman seperti kayu bakar saja.
“Kalian boleh pergi dengan selamat dengan catatan tidak melakukan kejahatan lagi, apalagi berani muncul di kampung ini,” ujarnya kemudian. Para warga yang bermunculan dari balik pintu dan sudah bersemangat ingin menghabisi para penjahat itu seketika terkejut dan protes.
“Lho sampeyan ini bagaimana?” kata Mbah Mingun, salah satu sesepuh. “Wong tinggal ngek... kok malah dilepas.” Protes semakin banyak. Dengan tenang Kang Mahmud membalikkan badan seraya berkata dengan nada datar dan sopan.
“Lho… kan yang melumpuhkan mereka saya, Mbah. Jadi seharusnya saya yang berhak untuk menghabisi mereka atau membebaskan. Saya akan tanggung jawab kalau mereka dan sejenisnya berani balik lagi ke kampung kita.” Ucapan yang tegas itu membungkam para warga tua dan muda. Akhirnya para penjahat apes itu bisa bangkit dan berlalu dengan tertunduk-tunduk setelah Kang Mahmud memukuli mereka dengan sarungnya. Kami, para warga, hanya terlongong saja melihat pemuda yang baru menikah beberapa minggu lalu itu melepaskan cecunguk yang kami benci.
“Kang Joko… Kok malah ngelamun? Ini lho kopinya biar gak ngantuk. Meskipun kampung kita aman dari perampokan, kita tetap harus tetap terjaga dan ronda untuk mencegah maling kecil-kecilan...” ujar Lek Marto membuyarkan anganku.
“Oh iya Lek… aku cuma teringat peristiwa dua bulan yang lalu itu..” jawabku tersipu. Segera kuraih cangkir kopi yang kami nikmati bersama itu. Secangkir besar kopi dengan sedikit gula lumayan membuat mata terjaga. Obrolan terus berlanjut. Pada jam tertentu kami segera beranjak untuk berkeliling kampung.
***
Sebenarnya kehebatan Kang Mahmud memang telah terasah sejak ia belajar di salah satu pesantren di Jawa Timur. Tetapi kerendahan hatinya membuat ia tidak pernah menampakkan kesaktian itu sedikitpun. Ia sehari-hari bertani, dan sorenya mengajar mengaji  anak-anak kampung. Hingga peristiwa malam itu terjadi di kampung Rejosari ini. Orang yang masih muda itu menjadi buah bibir baru di kampungku yang kecil. Tetapi getok tular para penduduk yang berlanjut ke pasar mingguan di desa sebelah, membuat nama Kang Mahmud semakin moncer. Dan entah siapa yang memulai untuk datang ke rumahnya meminta sekedar doa dan segelas air putih untuk perantara mendapat kesembuhan.Yang jelas dua bulan sejak perbicangan kami di gardu ronda malam itu, setiap hari rumah Kang Mahmud tidak telat orang yang datang meminta ini dan itu. Tentu kaitannya dengan penyembuhan alternatif melalui doa dan hal non medis.
“Saya sebenarnya sudah menghindari para tamu yang datang itu, Kang..” ujar Kang Mahmud. Malam kali ini ia mendapat giliran ronda. Aku sebenarnya malam ini tak mendapat giliran jaga. Namun begitu mendengar Kang Mahmud turut ronda, dengan senang hati aku menambah porsi jaga. Meskipun telah menjadi “Kyai” baru, Kang Mahmud tetap melaksanakan kewajiban ronda.
“Lha namanya orang minta tolong ya ditolong saja semampunya, Kang,” timpal Lek Marto. Meskipun usianya jauh lebih tua, ia terlanjur terbiasa menghormati tokoh muda itu dengan turut memanggilnya “Kang”.
“Enggeh Lek, tetapi kalau berlebihan mereka yakin kepada saya, ya saya takut kalau sampai mereka terpeleset akidahnya. Wah saya ndak mau kalau jadi dukun, Lek,” ujar Kang Mahmud dengan wajah menunjukkan keresahan. Kami berlima diam sejenak dalam alur pikiran masing-masing. Malam ini dari tujuh yang mendapat giliran, hanya ada empat orang anggota. Ditambah kehadiranku maka jumlahnya menjadi lima orang di pos ronda. Kang Rejo sakit, Lek Rustam pergi ke tempat saudaranya, sedang Mbah Jan pamit pulang duluan karena merasa masuk angin. Biasalah orang tua.
Yo sebisanya dinasehati pasiennya itu,” tiba-tiba Mbah Marto angkat bicara. Lelaki tua yang masih berbadan tegap itu memang meminta dijadwal giliran ronda. “Dinasehati, bahwa sampeyan itu hanya perantara.Yang menyembuhkan, yang memberi kesehatan ya hanya Gusti Allah. Ibarat dokter, sampeyan itu dokter yang tanpa obat-obatan. Hubungannya langsung kepada yang bikin hidup, Gusti Allah. Kan begitu pelajaran sampean di pondok?” lanjutnya dengan bijak. Kang Mahmud manggut-manggut.
 Obrolan malam itu terhenti seketika tatkala dari ujung jalan perempatan kampung terdengar suara “dor!!!”. Kami tersentak. Seketika semburat berlarian ke arah suara itu. Peralatan tidak lupa kami bawa. Parang, linggis, tongkat bambu dan beberapa kayu patok pinggir jalan yang bisa dicabut. Kami merasa berani karena ada Kang Mahmud di antara kami. Tapi keberanian itu tak berlangsung lama, karena dari jarak beberapa puluh meter kami lihat lebih dari dua puluh orang yang berkeliaran di sekitar rumah, halaman, dan jalan kampung menuju rumah Wak Haji Sholeh. Mungkinkah para perampok yang dulu kembali menyantroni rumah Wak Haji? Semuanya membawa senjata api. Seperti tentara saja. Ketika kami melambatkan langkah, Kang Mahmud nampak ragu untuk maju.
“Ayo Kang!!” seru Mbah Marto melihat jagoannya nampak ragu. “Ini hanya sampeyan yang mampu mengatasi!
Kang Mahmud akhirnya melangkah dengan tegap. Para perampok telah siap menodongkan ujung senapan kearah dada lelaki muda itu. Tanpa menunggu dan tanpa peringatan, sepuluh moncong senapan meletus. Kami hanya berani tiarap di parit menutup telinga. Ketika senapan berhenti menyalak, aku mendongakkan kepala dan terlihat Kang Mahmud masih berdiri tegak tanpa kurang secuilpun pakaiannya, apalagi kulitnya. Hebat betul orang ini, pikirku. Ketika untuk kedua kalinya moncong senapan para bandit itu menyalak keras. Sengaja aku tidak menundukkan kepala demi melihat apa yang terjadi. Kuberanikan menatap Kang Mahmud dari tempat kami tiarap. Mungkin hampir semua senjata bandit itu memuntahkan pelurunya ke arah Kang Mahmud yang dengan tenang maju selangkah demi selangkah mendekati mereka. Luar biasa… peluru hanya lewat saja di sekitar badan pahlawan kami itu. Justru aku kini yang harus menundukkan kepala demi mendengar desingan timah panas di sekitar persembuyian. Takut peluru nyasar. Para perampok semakin kalap. Suara dar der dor, bersahutan. Mungkin mereka penasaran bercampur marah. Tetapi sesaat kemudian yang kami dengar adalah suara klotak-klotak senapan para penjahat yang patah-patah diikuti jeritan para pemiliknya yang merasakan tangannya patah. Bukan hanya senjata api, tetapi tangan-tangan pemiliknya dipatahkan oleh Kang Mahmud. Aku menepuk punggung keempat rekanku yang tak sedikitpun berani mendongakkan kepala seraya berbisik. “Lihat itu Kang Mahmud beraksi..”
Mereka serentak mendongak dan menyaksikan peristiwa langka itu. Kang Mahmud mengamuk sejadi-jadinya. Kami lihat dari kejauhan bahwa para penjahat itu adalah orang-orang yang dulu mendatangi rumah Wak Haji. Dengan tetap mengendap di parit, kami beringsut mendekat untuk melihat aksi Kang Mahmud. Tanpa ampun, semua tangan para perampok dia patahkan. Gerakannya yang cepat membuat mereka tak sempat melarikan diri. Tinggallah satu orang berbadan tinggi besar yang nampak berdiri menantang. Kami tak mendengar apa yang mereka bicarakan. Yang jelas sesaat kemudian keduanya terlibat duel seru. Saling serang, saling pukul, saling tendang, saling telikung. Kami bak menonton film laga. Tapi tidak lama kemudian, diiringi gertakan keras dan suara pukulan menghantam tulang, tampak sang kepala perampok itu terjengkang dan menghantam tembok rumah Wak Haji. Sesaat kemudian ia mengejang dan diam tak bergerak. Kami perlahan keluar dari persembunyian ketika Kang Mahmud memberi aba-aba.
“Kang Joko...” ujarnya kepadaku, “Tolong beberapa orang hubungi polisi di kecamatan ya… ini biar diberesi dan kami jaga agar tidak ada yang main hakim sendiri.
Aku mengiyakan dengan anggukan kepala saja. Lantas Kang Mahmud beserta ketiga rekan jaga mulai sibuk merentengi para penjahat naas itu. Mereka merintih-rintih karena tangan dan kakinya patah. Aku segera pulang mengambil motor bututku, selanjutnya ke kantor polisi kecamatan yang jaraknya ada lima belas kilometer dari kampung kami. Untung listrik sudah masuk, kalau belum, wah… berat perjalanan malam itu. Dalam hati aku telah menyiapkan julukan baru untuk Kang Mahmud, pahlawan desa kami, pelindung kami. Dia pantas mendapatkan julukan. Kyai Jadug lintang saja. Sangar bukan? Entah apa artinya secara utuh. Pokok jadug itu artinya sakti, dan lintang itu bintang. Yah, Kang Mahmud adalah orang yang diberi kelebihan di antara manusia lain, dan ia adalah bintang yang menyinari kampung kami. Kyai Jadug lintang……
***
Siang ini, setelah tadi malam aku menyaksikan kehebatan Kang Mahmud, semua warga dikejutkan oleh suara bedug bertalu-talu dari masjid. Bedug bertalu-talu dalam irama khusus selama tiga putaran adalah isyarat adanya orang meninggal. Mungkin karena pengeras suara sedang rusak, sehingga beduk tidak dilanjutkan dengan pengumuman kematian seperti biasanya. Kami jadi bertanya-tanya siapa gerangan yang meninggal?
“Apa??? Kang Mahmud meninggal?!!!” suara jeritan dari tetangga sebelah membuat kami berduyun mengerubungi si pembawa berita duka. Wak Rozak, takmir masjid yang baru saja menabuh bedug mengatakan kalau Kang Mahmud meninggal karena jatuh dari wuwungan rumah saat membenahi beberapa genteng. Ia jatuh dan menimpa seruas bambu yang akan dijadikan tali pengikat sayuran oleh istrinya…

@@@
Jadug Lintang Jadug Lintang Reviewed by Kang Nasrudin on Desember 10, 2014 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.