Alif Lam, Sepasang Huruf yang Multifungsi

Kang Nasrudin

Alif Lam, Sepasang Huruf yang Multifungsi

 

Dalam kajian gramatika Arab (Nahwu) ada sepasang huruf yang unik. Alif dan lam, atau biasa disebut Al saja. dalam ilmu tajwid, pasangan ini ada dalam hukum-hukum bacaan Idghom Syamsiyah dan Idhzar Qomariyah. Kalau dalam ilmu tajwid Al hanya punya dua hukum bacaan, maka dalam ilmu nahwu Al punya berbagai peran dan hukum yang unik. Ya, unik dan menarik untuk diutak-atik. Sedikit saya ingin mengulas huruf yang multifungsi ini.

AL Sebagai Kalimat Huruf

Sebelum lebih lanjut, ingat bahwa ungkapan kalimah dalam bahasa Arab sama artinya dengan kata dalam Bahasa Indonesia. Ada tiga pembagian kata dalam Bahasa Arab; kata kerja (kalimat fi;il), kata sambung dan pelengkap (kalimat huruf), dan kata benda atau kata dasar (kalimat isim). Uniknya, AL ini bisa bisa menempati dua “kubu” bagian kata, yaitu bisa menjadi kata huruf bisa juga sebagai kata isim.

Dalam jajaran kalimat huruf, Al bisa berfungsi sebagai AL Ta’rif. Ta’rif artinya mema’rifatkan. Kata yang masih berstatus nakiroh/umum ketika kemasukan Al menjadi ma’rifat. Misalnya رجل  (rajulun: laki-laki) menjadi الرجل (ar-rajulu: seorang lelaki tertentu). Tentu saja al ini hanya masuk pada kata benda (kalimat isim).

Uniknya, selain memakrifatkan, AL juga bisa menakirohkan. Menarik bukan? Ini terjadi pada lafaz tergolong nama (alam) yang ingin ditasniyahkan ataupun dijamakkan. Asal muasalnya, dalam membuat kata benda tasniyah (dua) ataupun jamak mudzakar salim (plural) disyaratkan harus dari isim nakiroh. Jadilah dihadirkan AL untuk membuat kata tersebut nakiroh. Dari زيد  menjadi الزيدان dalam bentuk tasniyahnya, lalu   الزيدون dalam bentuk jamaknya.

AL Sebagai Kalimat Isim

Dalam jajaran kalimat isim, AL ada di barisan isim maushul/kata sambung. Menjadi “saudara” dari اللذي  alladzi, من man, dan ما ma. Dalam penggunaannya, Al sebagai isim maushul ini digunakan secara mutlak untuk mudzakar, muannas, mufrod, tasniyah, maupun jamak. Petunjuk bahwa AL dalam suatu bentuk kalam mewakili apa, bisa diketahui dari bentuk dhamir/kata ganti yang dibakai dalam shilahnya. Apakah itu berbentuk muanas, mudzakar, mufrod, tasniyah, ataupun jamak. Misalnya المسافر قد رجعوا   (orang-orang yang bepergian telah pulang). Karena kata roja’u menggunakan dhamir jamak mudzakar, maka diketahuilah bahwa AL yang menjadi maushul dalam contoh ini mewakili jamak mudzakar.

Al Maushul hanya berlaku untuk kalimat isim sifat, yaitu bentuk isim fail dan isim maf’ul. Hanya dua jenis bentuk/shighot tersebut yang bisa menempati posisi sebagai shilahnya Al.

AL, Pasangan Banyak Makna

Tak hanya soal posisi dan fungsi yang unik. Makna AL pun tak kalah menarik. Al dalam kata benda bisa mengikat makna Istighroq al-Jinsi (mencakup semua jenis), lil ‘ahd (yang sudah tergambar/diketahui dalam pikiran), Haqiqi (hakikat).

 Ketika berposisi sebagai Isim maushul pun, maknanya multikultural. Hehehe. Maksud saya buat semua. Laki, perempuan, mufrod, tasniyah, jamak, golongan manusia, binatang, sampai benda-benda mati boleh diwakili oleh maushul al ini.

Ternyata begitu multifungsi, multimakna dan serba bisa pasangan satu ini. Ada di mana-mana dan bisa di mana-mana. Hehehe. Begitulah...

Kang Nasrudin
Load comments